Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

Kecupan Kenangan




Kecupan Kenangan
Di luar, malam berbagi selimut dengan pepohonan akasia
Tiaptiap hujan, jatuh sebagai kepedihan paling mulia
Percaperca kenangan itu, kusatukan untuk mengganti pelukan
Tapi, kita samasama tahu: kambojakamboja itu mendekap di keabadian

Lalu dunia, lalu waktu, lalu mereka tak bisa jadikannya masalalu
Kita masih disini, di bawah guguran sajaksajak yang ngilu,
dan kembangkembang jambu air,
dan ceriteraceritera yang telah berakhir

Dan dunia, dan waktu, dan mereka tahu tiada pengganti
Kita masih disini, di bawah tumpukan katakata yang mati,
dan kecupankecupan bebintang,
dan epilogepilog yang menggarang

Semacam epitaf: lariklarik puisi yang ditulis matamu,
masih kubaca kelu hingga jantungku
Di atas kenangan yang kumakamkan dengan sisa kekuatan,
kutinggalkan kecupan sebagai yang paling menyedihkan

Makassar, 26 Oktober 2013: 17.17
Tiara Khalisa

Kamis, 29 Agustus 2013

Menunggu Abu


Menunggu Abu

Wherever you go,
            Whatever you do,
            I will be right here waiting for you
(Richard Marx – I Will Be Right Here Waiting For You)
Aku benar-benar telah menghabiskan waktu untuk menunggu. Bukan untuk apa-apa, bukan untuk siapa-siapa: hanya kamu sebagai alasan semua ini. Untuk segala pedih perih hati dihunjam kenyataan bahwa kamu tidak lagi seperti dulu. Tidak lagi merangkai serampai warna di lelangitku, tidak lagi bersamaku mencari-cari duka –karena kita hanya mengenal suka-, tidak lagi mempesona untukku; sendiri. Tapi juga untuk dia, wanita yang mendominasi sketsa di lembaran kanvas hidupmu.

Sepi itu tak berlisan, tak bertelinga
            Hanya menyesap sedihnya
            Membalas, menyalahi pun jadi tanpa
            Aku berteman baik dengan sepi. Sepi yang selama ini menjadi satu-satunya yang mengisi hatiku, ia menantimu yang tak kunjung layangkan kabar. Bersama sepi kubagi segala cerita tentang senyummu yang manis, tentang sorotmu yang magis dengan bahasa kami, dengan tatapan mesra tanpa sebuah asa akan bersua karena kami memang hidup bersama. Iya, aku mulai sedikit gila; karenamu.

            Di balik hangat, hujanmu turun
            Perlahan, namun kian mendekap pelan
            Kau datang, mewujud genangan—kenangan
            Lagi, kamu benar-benar menguji cintaku akan diberikan pada sesiapa, padahal jawabnya hanya satu: kamu. Begini, kuceritakan padamu tentang Putri Tidur: ia hanya diam, tidur bak sepanjang hari adalah malam, tapi di penghujung kisah lelakinya datang dengan segenap rasa yang bersiap untuk diakui. Ini yang kuyakini! Diam menunggumu untuk datang. Sang Maha Cinta menciptakan kita berpasang-pasangan, dan aku hanya ingin berpasangan denganmu. Bukan sepasang kepingan cerita lalu yang harus dilupakan.

            Sekarang, biarlah kau mencari jati diri
            Ketika telah kau temui
            Semoga: kau belum mengikat janji
            Aku mencintaimu. Hanya cinta. Cinta yang membuatku tak hanya inginkan kamu sebagai arang, karena akan kucintaimu hingga jadi abu. Hingga aku mengabu menunggu.

-Aku, yang (akan lelah) menunggumu
Tiara

Minggu, 18 Agustus 2013

(Kenapa?) Merdeka



(Kenapa?) Merdeka
Tanahku terlalu indah untuk dijajah
Sebangsaku terlalu muak untuk luluh-lantak
Bumiku terlalu asri untuk dikotori
Moyangku terlalu lelah untuk merintih tak berkesudah
Maka, berjuang jadi pilihan!

Tidakkan ada pejuang perang yang jadikan mati tak berbayang
Tak satu pun mereka biarkan riuh tertawa walau sebuah
Tak seorang yang tahu arti berkorban, tapi rela dihunus pedang lawan:
Cintanya! Keutuhannya!
Bagaimana pun akhirnya!

Tujuh belas agustus di depan mata
Enam puluh delapan tahun kita merdeka
Iya, merdeka dari jajahan negara lain
Tapi, perut sempurna keroncongan
Ini teraniaya di rumah sendiri!
Generasi muda sebangsaku digelitik ‘tuk ajukan kritik
Kenapa Sang Birokrat bak lupa Si Rakyat?
Untuk apa kata merdeka diproklamasikan jika ada yang hidupnya bak di neraka?
Merdeka atau mati saja?
Lebih baik mati berkalang tanah;
daripada hidup saling menjajah

Apapun itu Indonesiaku, 17 Agustus 2013 : 22.37
Hanya kekata Indonesiaku, tapi kuharap rasai airmata Si Rakyat Jelata
Tiara

Jumat, 26 Juli 2013

Tuanku Yang Bisu



TUANKU YANG BISU

Nyanyian hatiku kini tiada
Riang gembira jadi lagu lama
Hanya bisikan yang membahana
Karena telah hidup sunyi ada senyap pula

Berkali kucoba bersenandung

Tapi kau tak pernah menyambung
Yang dulu hanya akan terkenang
Masa silam hanya dapat dipegang

Tuan, tidakkah kau merindu pada keramaian?

Tuan, tidakkah kau mendamba keriuhan?
Tuan, tak inginkah kau keluar dari keheningan?
Tuan, tak inginkah kau raib dari kebisuan?
Tuan, sadarkah kau tentang aku yang mulai bosan?
Tuan, sadarkah kau tentang aku yang ingin usaikan?
 
-Aku, yang selalu mengutuk diammu
Tiara