Senin, 10 Juni 2013

Karena Satu Warna Pelangi


Karena Satu Warna Pelangi

Segala kenangan, kemarin, dan hari ini
Setiap saat, menyesaki rongga dada
Menghentikan kehidupan,
Menghambat rotasi bumi

Telah lama hidupku
Menyukai banyak hal, menggeluti
Menggila yang dibenci orang
Dan muak dengan yang disukai khalayak

Dari keabadian, dan malam yang merintih
Aku, melagukan ratapan kenangan
Dibalik mereka, yang bagai benda kasat mata
Kulihat ia yang paling kucinta, walau dalam maya

Hasrat, gelora, dan segala rasa
Menggeliat-geliat dalam hati
Ditindas oleh rindu yang berbiak
Aku, merindunya, dia

Namun, kala kucari dalam kesunyian,
Aku mendengar gemintang berbisik
“Bahagialah! Seorang anak dilahirkan,
 untuk menopangmu, dibawa dari relung kalbu, dan
 bukan berasal dari ketiadaan.”
Dan seketika itu, aku beraksi dalam sepi.

“Salam untuk bibir, yang
Selalu menyerukan semangat,
Meski tenggelam di air mata yang menggenang.”

“Salam untuk dia yang kucinta,
Di ujung pelangi yang sedang menangis, karena
Kehilangan satu warnanya,
Kini miliknya”

 

-Aku, yang dihimpit rindu
Tiara


Minggu, 09 Juni 2013

Nirwana Menantimu


            Malam tadi, aku tertidur sangat lelap. Rembulan bersenandung merdu mengantarkanku hanyut dalam pelukan malam. Ingin yang menyelinap dalam kalbu membuatku tak lelah meringkuk dalam selimut hangatku. Walau sebenarnya aku sedikit kecewa karena gemintang yang biasanya kutitipi salam untuk orang yang kukasih tak muncul. Tapi setidaknya bebuliran dari langit dapat kutitipi pesan cinta untuk yang kurindu.

            Lalu, beberapa saat yang lalu, mentari pagi menyaksikan cairan yang tak mampu lagi dibendung pelupukku jatuh begitu saja. Aku begitu terlena dengan malam hingga tak sadar bahwa dalam gelapnya, ia mendekapmu, lalu hujan itu membawamu turut serta. Pasukan Hujan sepertinya ditugaskan oleh Dewa Langit untuk membawamu pergi dari kejamnya dunia. Tapi apakah dia juga berwenang membawamu pergi dari hidupku?

            Aku memang tak boleh menyalahkan bulir itu sebagai ari semua ini. Bukan juga pada Pertikaian Dewa Langit dan Malam yang membuatmu terbang begitu saja. Mungkin karena Tuhan yang benar-benar menginginkannya. Tidak menginginkanku untuk jauh darimu, tapi menginginkanmu untuk menjadi temannya di surga. Mungkin juga karena nirwana yang memang menantimu.

            “Tiara, Farel, ini rumah sakit. Jangan ribut!” tegurmu waktu itu, kala aku dan cucumu itu bermain-main di rumah sakit, membuat gaduh lantai tiga.

            “Setop, deh. Kita nyanyi-nyanyi, kamu main gitar.” Aku mencari jalan menuju kesenangan lain.

            “Jangan disini juga, nyanyi di taman belakang!” kau menyergah kami yang mulai beraksi cepat-cepat.

            “Di taman kita lari-larian aja, ayo!” ide gila terus saja mencuat dari pikiranku.

            “Tiara, kamu bukannya baru bisa jalan. Udah lari-larian aja.” Lagi-lagi kau menyela, membuat rencanaku tak berlangsung dengan baik.

            “Ini deh, beli es krim, Farel.”

            “Jangan, nanti flu. Ini pancaroba.” Dan kau yang seperti ini membuatku semakin kesal. Kutahu kau juga kesal dengan hal-hal gila yang kurencanakan, namun sama sekali tak kulihat emosi dalam raut wajahmu. Hanya cinta kasih yang terpampang jelas serta khawatir kami akan terluka.


Segala sesuatu yang ada di hidupmu, akan sangat berarti, mungkin hari ini atau besok.

Untuk Oma yang terbang dengan sayap indahnya
Dan Farel yang membawamu padaku
Dariku, yang selalu rindu akan belai kasihmu
Tiara

Kamis, 06 Juni 2013

Gemalau Suara Kacau



Untuk kalian yang disana…

            Pernahkah kalian berjalan namun tak meninggalkan jejak? Apakah kalian telah liat rembulan bersinar di siang hari? Sudahkah kalian saksikan senja tanpa semburat jingga yang elok? Kalian pernah merasakan guyuran hujan tanpa sedikitpun basah setelahnya?

            Tahukah kalian, aku pernah merasakan semua itu!

            Aku berjalan menyusuri dunia ini dengan sebuah sorot temaram dari pelita yang bahkan jauh dari terang. Meraba-raba seisi planet tanpa tahu apa dan siapa yang ada disana. Hidup hampir serupa dengan mereka yang Lobus oksipitalis-nya tak berfungsi. Kulewati segala rintangan yang ada walau akhirnya aku luka-luka, penuh darah, nanah, dan nyaris terpuruk dalam kesendirian. Berjalan sekuat tenaga, tetapi yang kutahu, aku tak pernah meninggalkan jejak. Hingga tak seorangpun tahu, aku berpindah tempat sepagi ini.

            Rembulan yang indah. Aku tahu, ia sangat indah, berkawan seribu gemintang di atas langit malam. Mengukir sabit setiap saat. Tetapi, hari itu, kulihat ia termenung. Beberapa kali kusaksikan matanya menjatuhkan bulir-bulir halus. Kala itu, ia berbeda.

            “Kau kenapa, bulan?” begitu tanyaku. Tak tega melihatnya bersedih, hatiku bagai diiris-iris melihat yang selalu menemaniku menangis.

            “Percuma aku ada disini, sementara mentari bersinar lebih terang.” Jawabnya dengan mata yang terlihat sembap. Aku tahu ia kecewa, sesal dengan hidupnya.

            “Kalau begitu, kembalilah pada malammu. Kupikir kau sangat berguna disana, banyak orang sepertiku yang membutuhkanmu. Ada juga mereka, yang butuh kau untuk menyampaikan do’a pada yang terkasih. Kembalilah.” Aku tersenyum padanya.

            Aku mungkin bisa memberitahu bulan untuk kembali pada malam. Lalu bagaimana dengan diriku? Aku bahkan tak tahu akan kembali pada siapa dan dimana ketika tak seorang pun tahu aku ada disini. Mereka bahkan seperti menutup telinga dengan suara-suara yang kukeluarkan. Atau mungkin mereka hanya menganggap suara-suaraku sebagai gemalau yang kacau. Entah. Yang kuyakini, mereka tak tahu benar apa yang kusuarakan.

            Senjaku saat ini, adalah senja kelabu. Tanpa sedikitpun eloknya semburat jingga yang memanjakan Kornea milikku yang biasanya menerima cahaya itu. Bukan senja yang selama ini kuelu-elukan di depan siang yang membuat epidermisku berteriak. Senja yang selalu menyambut malam yang akan menemaniku. Senja kelabu. Senja kelam. Tanpa cahaya. Tanpa jingga.

            Aku tak tahu apa yang membuat hujan mulai menggugus ke bumi, padahal sebelumnya tak ada pertikaian di langit. Tak satupun ada gemuruh yang tertangkap indera pendengaranku. Tapi aku bahagia. Karena hujan ini, tak sedikitpun membuatku basah. Sepertinya ia hanya ada untuk menenangkan hatiku yang kecewa, membuatnya tentram dengan sensasi yang ia bawa dari kahyangan.


Aku, yang selalu terpesona dengan semburat jingga
Aku, yang selalu damai karena bilur hujan
Tiara

           

Rabu, 05 Juni 2013

Bermula Dari Nama


            Aku jengah dengan semua ini!

            Aku letih dengan perputaran bumi!

            Aku ingin berlari pada program pengolah kata di laptop, tapi hatiku terlalu sakit dengan omongan mereka. Semangatku yang dahulu berkobar-kobar layaknya sang jago merah sedikit lagi padam. Mungkin ini terjadi disaat yang tidak tepat, ya, bukan pada waktunya.

            Sudah 5 hari buku pertamaku yang bertajuk Sepotong Hati terbit, aku patut bahagia dengan ini. Tapi apa yang lebih menyebalkan jika hasil karyamu dinilai menjiplak yang telah ada?  Saat puisimu sebagai media menumpahkan perasaan dibilang terlalu berlebihan. Ketika kau bahkan tak tahu tulisan mana yang serupa dengan milikmu.

            Bukannya introspeksi diri bermodalkan omongan orang, aku beralih ke dunia maya. Urung sudah niatku untuk melanjutkan naskah terbaruku. Sepintas lalu di kepalaku terbesit sesuatu yang rasanya akan membuat impi yang kurintis sejak berumur 8 tahun ini pupus. Aku berhenti menulis.

            Baru saja aku ingin mengundurkan diri dari komunitas yang beberapa bulan ini menaungiku, aku mendapat sebuah pesan di akun jejaring sosialku yang lain. “Suka nulis :)” begitu bunyi pesan yang dikirimkan seseorang untukku. Dan yang lebih mengejutkan lagi, namanya sama denganku.

Aku terbang menuju ingatan tentang beberapa hari yang lalu, ketika bukti terbit buku telah berada dalam genggam. Kulihat sesosok dara belia berlarian mengelilingi rumahnya tak jelas, ia diderai gelak tawa. Bukan menertawakan sesuatu yang lucu, tetapi tawa karena puas dengan hasil tangannya sendiri.

Mungkin aku memang seharusnya ada disini.” Hanya itu yang mampu kukatakan pada sang hati.
Kala itu, hujan mengguyur kotaku. Pasukan Hujan sepertinya menurut saja pada Dewa Langit yang memerintahkan mereka untuk turun ke bumi. Awan-awan yang biasanya serupa gumpalan kapas terbang menjadi kelabu, mungkin ia sedih karena ditinggal teman-temannya menuju bumi.

            Ia membuatku bernostalgia dengan panggilan Ara, sesuatu yang tak pernah lagi kudengar setelah satu-satunya orang yang memanggilku seperti itu pergi. 

Pembicaraan kami awalnya hanya sebatas mengenai dunia kepenulisan, hanya berputar di sekitaran lomba menulis dan bermacam-macam penerbit buku. Lalu tanpa kusadari, mengalir hingga menemui sesuatu yang hanya diketahui orang-orang terdekatku. Bahkan tidak untuk sahabatku sendiri. Aksara demi aksara yang tertuang tak lebih dari 140 karakter membuat kami semakin dekat, perlahan akrab.

Semakin banyak kalimat yang tertukar dari kami melalui Sang Maya, semakin kutemukan banyak kesamaan darinya. Aku kian berani membayangkan wujudnya yang tak pernah singgah di lensaku, rambutnya panjang berombak, kulit sawo matang yang seringkali epidermisnya ditembus terik mentari, gaya bicara dengan logat khas. Dan, tentu, sorot mata yang bersinar-sinar penuh arti.

“Mbak, hewan yang menyebabkan daun berlubang apa?” semakin dan makin berani aku bertanya tentang hal di luar batas sharing tulis menulis.

Entah apa yang memelopori hubungan kami, mungkin karena hobi yang sejalan. Atau gaya menulis yang tidak bertolak belakang? Bisa juga karena cita-cita untuk mengabdi dalam dunia kesehatan yang kebetulan sama. Atau nama yang memang serupa?

Hasrat hati untuk membuat mata kami bertumbukan mulai terasa membuncah. Gemuruh yang menggeliat-geliat karena bahagia menjadi ‘Tukang Tik’ seringkali melandaku, semakin tinggi substansi harap untuk menjadi pelayan sastra sejati dan nantinya akan bertemu dengan Sang Pemantik Semangat di sebuah acara launching buku.
Aku menyibak jendela, bulir-bulir dari langit tak henti membasahi pelataran. Padahal aku sudah di ujung bahagia, tak sabar untuk berjumpa dengannya yang selama ini hanya kutemui dalam maya. Setahun ini kami berjuang, menjadi licik untuk mencuri waktu di sela kesibukan masing-masing. Tak jarang orang tuaku menjadi kesal karena aku hanya berteman laptop, hingga skoliosis thoracalis yang menjadi bagian hidupku kambuh untuk kesekian kalinya.

Sudah lama sekali aku menunggu disini, sebentar lagi acaranya akan segera dimulai. Dan, aku masih saja menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Sudah sering aku menoleh pada pintu yang terbuka, berharap dari baliknya terlihat sebuah rupa yang kunanti. Aku masih terfokus pada jendela di hadapanku, berharap kulihat mobil silver dengan plat yang ia sebutkan tadi singgah di pelataran.

Dari sebuah sudut, kulihat seorang dara dengan rambutnya yang panjang bergelombang –persis seperti yang ada di bayangku- turun dari mobil berwarna silver. Tapi rambutnya lepek. Ia basah kuyup, habis menikmati guyuran hujan, rupanya.

“Mbaak!!” aku berlari keluar dari pintu yang beberapa saat lalu kulepaskan dari perhatianku.

“Basah.” Keluhnya. Sebuah sabit yang kuharapkan muncul, tak terlukis di bibirnya.

“Masih sempat dikeringin dulu rambutnya, terus ganti baju.” Ucapku setelah mematut jam tangan di pergelangan tangan kananku.
“Hujan Yang Kau Kenalkan” seseorang mulai berbicara melalui microphone dalam genggamnya, “Novel duet karya Tiara Balqhis dan Tiara Khalisa.” Dengan lengkung yang mengembang sempurna di wajah, kami mengangguk hampir bersamaan.

“Duo Tiara, sepertinya. Hahaha.” Orang tadi terkekeh melihat nama kami yang mirip. Ini bukan hal yang istimewa, sudah sering aku bertemu dengan orang bernama sama.

“Itu biasa saja, yang luar biasa disini adalah pikiran yang saling bertautan merangkai kata.” Ungkap Tiara, bukan aku. Tapi dia.

“Dan, twitter yang mempertemukan kami adalah yang terbaik.” Aku menyela perkataannya, “Serta cinta yang menyelinap ke dalam aliran darah.”

“Alah.” Ucapnya. Orang-orang terlihat menahan tawa karena pembicaraan kami.

“Engga usah ditahan. Ketawa ajalah. Haha”


Karena aksara menjadi penyambung kita, dengan segala bentuk rangkaian yang menjadikan rasa kita melebur. Dan pertemuan itu, terjadi karena perantara satu langit yang menaungi kita. Langit yang setiap malam kutitipi do’a untuk seseorang nun jauh disana, yang kucinta.

Karena Tiara terindah, hanya milik kita
Untuk Tiara
Dariku yang selalu merangkai kata
Tiara